“Abimanyu Pinayungan” Hidup Kembali: PBSJ Unesa Rayakan Hari Wayang Dunia dengan Jiwa Muda
Di tengah hiruk-pikuk zaman, wayang tetap berdiri kokoh sebagai cermin nilai luhur bangsa. Di hari istimewa ini, Hari Wayang Dunia 2025, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa (PBSJ) Unesa menghidupkan kembali lakon klasik “Abimanyu Pinayungan” lewat pagelaran wayang kulit yang digelar di Kelurahan Lidah Wetan, Surabaya, Rabu malam (5/11/2025).
Yang menarik? Dalangnya adalah mahasiswa PBSJ sendiri: Ki Wisnu Jati Pamungkas, sosok muda yang membawa semangat baru dalam dunia pedalangan. Musik iringannya pun tak kalah istimewa, diisi oleh Sanggar Bharada, kelompok karawitan kampus yang penuh energi. Belum lagi kehadiran duo legendaris Jo Klithik dan Jo Kluthuk yang bikin suasana makin hangat dan penuh tawa khas wayang.
Lakon Abimanyu, yang dikenal teguh, jujur, dan rela berkorban—dipilih karena pesannya masih sangat relevan: bagaimana generasi muda tetap berdiri di atas prinsip di tengah tekanan zaman.
Acara ini disambut hangat oleh warga Lidah Wetan. Dari anak-anak hingga lansia, semua duduk lesehan menyaksikan lakon yang sarat makna. Bagi PBSJ Unesa, ini bukan cuma pertunjukan, tapi juga bentuk pengabdian budaya: menjembatani kampus dan masyarakat lewat seni.
“Menguasai bahasa Jawa itu penting, tapi memahami jiwanya lewat wayang jauh lebih berharga,” ujar Bapak Latif Nur Hasan, Ketua PBSJ Unesa. Ia berharap, mahasiswa tidak hanya jadi penonton, tapi juga pelaku aktif dalam melestarikan warisan ini.
Di tengah arus globalisasi, pagelaran seperti ini adalah napas segar, pengingat bahwa identitas kita tak boleh luntur. Dan siapa tahu? Dari panggung kecil di Lidah Wetan, lahir dalang-dalang masa depan yang akan membawa wayang ke pentas dunia.
Share It On: