Monday, 11 30th

Last updateMon, 30 Nov 2020 4am

  • Create an account
    *
    *
    *
    *
    *
    *

    Fields marked with an asterisk (*) are required.

Ada Kejiman Sebelum Seblang Olehsari Dimulai

Ketika Heru SP Saputra, peneliti dan dosen di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Jember (Unej) menunjukkan sosok sepuh (tua) yang kejiman (trance) menyebut satu nama sebagai penari Seblang di Desa Olehsari, Banyuwangi, yang menonton rasanya ikut merinding. Itu ditunjukkan melalui tayangan yang dibagikan dalam Webinar Nasional bertema Metodologi Penelitian Tradisi Lisan pada Masa Pandemi Covid-19.

Topik yang diangkat mengenai langkah praktis meneliti tradisi lisan. Itu yang disampaikan oleh Setya Yuwana, Ketua Asosiasi Tradisi Lisan Jawa Timur.

Webinar yang berlangsung Sabtu (11/7/2020) itu diadakan atas kerja sama Asosiasi Tradisi Lisan Jawa Timur dan Universitas Negeri Surabaya. Lembaga lain yang mendukung adalah STKIP PGRI Jombang, Universitas PGRI Wiranegara Pasuruan, Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, Universitas Muhammadiyah Malang, IKIP Widya Darma Surabaya, dan Universitas Jember.

Pemaparan materi dan diskusi berlangsung seru dilihat dari berbagai pertanyaan yang dilontarkan melalui kolom pesan baik di Zoom maupun kanal YouTube. Diskusi selama tiga jam mulai pukul 09.00-12.00 itu diikuti peserta dari Aceh hingga Maluku.

Mereka antusias karena tradisi lisan menjadi bagian dari kehidupan bangsa Indonesia. Banyak suku membuat tradisi lisan semakin kaya. Itu perlu diteliti supaya lebih banyak orang yang memahami makna tradisi lisan yang ada.

Sunu Catur Budiyono, Dekan Fakultas Sosial dan Humaniora Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, memaparkan perkembangan wilayah penelitian akibat pandemi. Peneliti tetap dapat melakukan penelitian meski saat ini terhalang kondisi. Beberapa kiat dibagikan kepada para peneliti jika ingin meneliti tradisi lisan melalui digital.

Demikian juga dengan paparan Trisakti, Dekan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya. Tontonan rakyat yang selalu melibatkan penonton dalam berkomunikasi menjadi terhalang.



Pilihan lain adalah membawa tontonan rakyat ke layar televisi. Ada beberapa perubahan yang harus dilakukan. Misalnya setting ketoprak di atas panggung digantikan dengan setting sederhana saat tampil di televisi.

“Meski demikian, memang meneliti tradisi lisan langsung ke objeknya tetap diutamakan karena ada banyak hal yang tidak bisa dialihkan ke wilayah digital. Salah satunya adalah interaksi dengan penonton,” kata Trisakti menjawab pertanyaan Siti Gomo dari Universitas Negeri Jakarta. Trisakti banyak meneliti ketoprak dan nilai budaya Jawa.

Interaksi itu unik, menurut Sunu. Penonton ketoprak sudah siap sebelum ketoprak dimulai. Mereka juga tetap ada di tempat ketika panggung usai.

“Mereka ingin tahu persiapan yang dilakukan. Mereka juga tidak meninggalkan lokasi karena ingin tahu, siapa yang menjadi raja, siapa yang memerankan putri, dan seterusnya. Itu yang tidak didapat oleh peneliti jika tidak datang langsung ke lokasi penelitian,” papar Sunu yang memiliki banyak penelitian tentang tradisi Panji.

Keingintahuan peserta ketika penelitian di lapangan terjawab saat Heru memaparkan penelitian-penelitiannya tentang Seblang Olehsari. Ada banyak tanda yang harus dipahami. Ada banyak ritual yang menyertai sebelum Seblang Olehsari diadakan.

“Jika di lapangan ada peristiwa yang tidak kita duga, bagaimana sebaiknya? Saya akan menikmati semua proses itu karena memang begitulah penelitian tradisi lisan. Yang penting, kita harus memahami apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Biasanya asisten peneliti yang menjadi penghubung dengan objek penelitian akan mengingatkan,” kata Heru yang menulis buku Memuja Mantra Sabuk Mangir dan Jaran Goyang Masyarakat Suku Using Banyuwangi itu.

Kejiman adalah salah satu bagian dari Seblang Olehsari. Seblang Olehsari menjadi bentuk penolak bala. Seblang itu hanya bisa dimainkan di Olehsari. Di luar desa itu, tidak bisa. Itu membuat peserta webinar semakin bersemangat menunjukkan pengalaman mereka ketika meneliti di lapangan.

Webinar yang diikuti lebih dari 500 peserta aktif itu tidak cukup memuaskan para peneliti tradisi lisan. Itu sebabnya, akan diadakan webinar lagi untuk mengokohkan penelitian tradisi lisan di Indonesia.



Artikel ini telah tayang di surya.co.id dengan judul Ada Kejiman Sebelum Seblang Olehsari Dimulai, https://surabaya.tribunnews.com/2020/07/12/ada-kejiman-sebelum-seblang-olehsari-dimulai?page=2.
Editor: Endah Imawati

 

Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Gedung T2, Universitas Negeri Surabaya
Kampus UNESA Lidah Wetan Surabaya 60213
Telp/Fax : 031-7522876
Website : http://fbs.unesa.ac.id/ Email : info@fbs.unesa.ac.id

You are here: Home BERITA Ada Kejiman Sebelum Seblang Olehsari Dimulai